Pernah nggak siech kamu ngerasa jenuh dgn semua yang ada disekeliling kamu? Aku pernah dan itu terjadi saat ini aku bingung harus berbuat apa agar aku merasa nggak jenuh lagi tapi apapun yang telah ku perbuat hanya sia2 belaka.
Aku lahir dari keluarga yang bisa dibilang serba berkecukupan. Ayahku memiliki sebuah perusahaan dibidang periklanan dan kakak laki2 pertamaku, Mas Hendra akan melanjutkan pengabdian Papa sebagai direktur yang selama bertahun2 menekuni pekerjaannya itu. Kakak ke2ku, Mas Karel adalah seorang diplomat dengan gaji yang cukup besar. Dan aku, Lena, hanya seorang murid SMA seperti murid SMA lain kebanyakan.
Lalu apa yang membuatku jenuh ?? Aku sendiri nggak tau. Segala hobiku sudah ku lakukan, dimulai dari membaca buku bermain piano, bahkan bernyanyi hingga suaraku serak tapi tetap saja tak membuat segalanya lebih baik. Untuk menulis pun aku tak bisa berkonsentrasi padahal sedari kecil aku sangat suka menulis bahkan aku sering menjuarai berbagai macam perlombaan dibidang sastra, apa itu menulis puisi, mengarang cerpen atau apapun yang ada kaitannya, bahkan aku ingin melanjutkan kefakultas sastra agar hobiku dapat tersalurkan.
Akhir2 ini aku hanya diam dikamar sambil mendengarkan lagu2 Avril Lavigne, idolaku agar aku tak mati bosan. Tapi tetap saja bosan itu tak berkurang sedikitpun bahkan aku semakin bosan.
Apa kejenuhanku ini disebabkan dia ???
Tak mungkin !!! Bayangannya telah memudar sedari 3th lalu.
***
"Lena,ayo bangun... " Tegur mama sambil membuka tirai jendela kamarku sehingga aku memicingkan mata karena silau oleh cahaya matahari yang menyusup masuk kedalam kamarku.
"Sekarang minggu kan, Ma? " Tanyaku seraya menguap pelan dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.
"Iya, tapi nggak seharusnya kamu bermalas-malasan dikamar" Ujar mama sambil menarik selimutku. "Ayo bangun, Tio sudah nunggu kamu didepan dari tadi."
Aku mengucek2 mataku dan melirik jam diatas meja. 08.05. Aku hanya dapat tidur beberapa jam. Kejenuhanku membuat mataku terbuka lebar semalaman.
"Ayo cepat bangun dan temani Tio, calon tunanganmu didepan" Ujar mama dengan senyum yang sumringah.
"Calon tunangan ???" Tanyaku heran. "Papa nggak bener2 serius aku tunangan sama mas Tio kan, Ma ?"
Mama menghela nafas berat dan duduk disampingku sambil membelai2 rambutku, "Len, papamu hanya ingin yang terbaik untuk kamu."
"Terbaik ??? Hmmm ... Maybe." Desahku dan masuk kekamar mandi, meninggalkan mama yang urut dada akan tingkahku.
***
"Hai, Mas..." Sapaku seraya duduk disofa dekat mas Tio dengan ogah2an.
"Baru bangun ya, Len??? " Tanya mas Tio.
Aku hanya mengangguk dan kembali menunduk memainkan jemari kakiku.
"Kamu pasti begadang ya??? " Tebak Mas Tio. "Mata kamu agak merah." Sambungnya dan aku hanya menanggapinya dengan ber"oh" panjang. "Pasti mikirin pacarnya sampai2 nggak bisa tidur gitu ya ?"
"Ada perlu apa Mas sama Lena ? Kayaknya penting banget. Emang nggak kerja ya ?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Lagi libur nih. Hm... Aku pengen ngajak kamu jalan2, Len."
"Kemana, Mas?"
"Kamu mau kemana pasti aku antar."
"Aku nggak mau kemana2 nih, Mas, aku pengen tidur aja seharian." Jawabku ogah2an.
"Kamu sakit, Len ?" Tanya mas Tio sambil mendekatkan tangannya dikeningku.
"Enggak kok, Mas, aku cuma lagi bosen aja." Jawabku seraya menepis tangannya.
"Lho ??? Kalau bosen kita jalan2 aja! Mas beliin novel2 atau CD Avril, kamu pasti nggak bosen lagi." Bujuknya.
` Pasti Mas Karel udah cerita panjang lebar tentang ku pada mas Tio. Dasar ember !!! Dikiranya aku bakalan jadi perawan tua apa ??? Batinku.
"Nggak usah repot2, mas, aku lagi nggak mood baca dan dengerin musik."
"Ayolah, kali ini saja " Pintanya sambil menggenggam tanganku erat2.
""Baiklah, Mas" Jawabku. "Aku ganti baju dulu ya, Mas" Sambungku seraya melepas genggaman tangan mas Tio dan melangkah pergi.
***
"Kejar aku, Mas !!!" Ledekku saat larut dalam kegembiraan bermain bom2 car. Ku Injak gas dan ku tabrakan mobil yang aku kendarai menjauh dari Mas Tio.
"Awas ya... Aku kejar kamu, Len !" Balasnya sengit dan menabrakkan mobilnya kearahku hinggaku menjerit sekencang2nya karna kaget. "Kenapa, Len?" Tanya mas Tio sambil membantuku keluar dari mobil2an yang ku kendarai.
"Nggak apa2 kok ,Mas. cuma kaget aja..."
"Seru ya ???"
"Iya, Mas, seru banget... Pengalaman pertama ngendarai mobil sich. Tau sendirilah Papa orangnya kayak gimana, mana dikasi aku ngendarain mobil sendiri. Yang ada pasti Mas Karel yang antar jemput kalo nggak pasti supir papa yang lamban itu. Bete abieeeez !!!"
"Yaaah, terima aja nasib kamu, hehehehe daripada harus homeschooling ??" Ujarnya sambil terkekeh. "Mau makan nggak ??? Kamu pasti belum sarapan, ya kan ?"
"Kok tau siech, Mas?"
"Feeling "Jawabnya sambil menarik tanganku kesalah satu restauran terdekat.
Aku tersenyum dan mengikutinya sambil memilin2 rambutku. Tiba2 aku menangkap sosok lelaki berdiri disebelah toko kaset. Dia bergeming sambil menatap tajam kearahku dan mas Tio. Wajahku seketika pucat pasi dan senyumku memudar.
"Mas..." Panggilku.
"Kenapa, Len, kamu sakit ???" Tanya mas Tio saat menatap wajahku yang pucat pasi.
Aku menggeleng dengan senyum yang dipaksakan, "Aku ketoilet dulu ya,Mas"
Aku melirik kearah sosok lelaki tadi dg sudut mataku, tapi ia telah pergi.
Kubasuh wajahku dengan air yang mengalir tak begitu deras, ku pandangi wajahku dicermin lekat2 dan kuabaikan tetes2 air mengalir diwajahku begitu saja. Ingatanku kembali pada masa SMP beberapa tahun silam tapi segera kubasuh wajahku lagi, lagi dan lagi berharap sosok itu pergi tapi aku tak bisa mengenyahkan bayangan itu begitu saja. Ku buka tas tangan yang kubawa dan ku ambil sapu tanganku, segera ku hapus air yang mengaliri lekuk2 wajahku yang polos tanpa make up.
Segera ku buka pintu toilet dan melangkah keluar, tapi tiba2 saja sosok lelaki yang aku hindari muncul, menarik tanganku dan menghempaskan tubuh lemahku kearah dinding yang dingin hingga aku tersentak.
"Lena ?" Aku menahan nafas, menunduk dalam dan memejamkan mata karena takut. "Liat aku, Len!" Hardiknya hingga aku tersentak karena sikapnya yang berubah. Segera ku alihkan pandanganku dan menepis tangannya yang dingin.
"Lena..." Desahnya.
"Sebaiknya kamu pergi !" Ketusku.
"Len, aku..."
"Udahlah, Van." Potongku. "Sebaiknya kamu pergi sekarang !!!"
Evan menatapku tajam, rahangnya mengeras dan menggeretak. Evan mengalihkan pandangannya dan berlari pergi. Baru pertama kali ini aku tak menyesal mas Tio ada disampingku.
"Lena..." Panggil mas Tio yang berlari kearahku. "Siapa cowok itu? Dia apain kamu?"
"Enggak kok, Mas, dia salah orang. Dikiranya aku pacarnya yang hilang" jawabku dengan wajah yang tertunduk.
"Ooooh, kita makan yuk, aku udah pesenin bakso buat kamu"
Aku mengangguk pelan dan mengikutinya. "kok Mas tau kalo aku suka makan bakso."
Mas Tio berbalik dan menatapku, "Apa aku kayak penguntit?"
Aku menggeleng dan mas Tio tersenyum dan menatapku lebih dalam lagi dengan matanya yang teduh.
"Ayo makan, Len" Kata mas Tio sesaat setelah pelayan menyediakan dua mangkok bakso padaku. "Gimana ???"
"Hmmmm... Lebih enak baksonya Pak Kasim" Tuturku.
"Emangnya restaurannya dimana ??? "
Aku tersedak dan tertawa sedangkan mas Tio hanya menatapku heran, "Pak Kasim itu penjual bakso dikantin sekolah waktu aku SMP, Mas. Tapi jangan remehkan lho... Baksonya jauh lebih enak" Ujarku sambil menyeruput lemon tea yang dipesankan mas Tio.
"Oh ya??? ..."
"Iya, mas, biar aku kenalin mas sama Pak kasim. Biasanya pak Kasim jualan bakso sampai sore, tiap hari nangkring diSMP" Kataku penuh semangat.
"Minggu juga???"
"Iya, Mas, kan biasanya ada ekskul tiap minggu dan tiap hari baksonya ludes, habis terjual" Tuturku lagi dengan semangat '45.
"Gimana kalo kita kesana aja mumpung belum libur?"
"Yuuuuuk..."
***
"Non Lena ???" Tanya Pak Lasim saat melihatku berdiri didepannya yang sedang membersihkan meja.
"Pak Kasim, pesen bakso dua ,ya??" Pintaku.
Dengan senyum yang merekah pak Kasim bergegas menyiapkan bakso pesananku."Kok tumben sich, non? Bapak kira Non Lena udah lupa sama bakso buatan bapak."
"Mana mungkin sih Lena bisa lupa, buktinya Lena inget makan bakso kesini bahkan Lena ngajak temen yang juga penasaran sama bakso buatan bapak." Tuturku. "Eh ya,Pak, ini temen abang Lena yang sering jemput Lena dulu waktu pulang sekolah."
"Oooh... Temennya Mas Karel ya yang sering minta tambah itu??? "
Aku tersipu dan mengangguk, "Ini Mas Tio, dijamin nggak bikin Bapak bangkrut"
"Tio.." Kata mas Tio sambil menjabat tangan pak Kasim yang segera membersihkan tangannya sebelum menjabat tangan Mas Tio.
"Jadi Mas ini pacarnya Non Lena ya ?"
"Belum, pak, tapi doain aja..." Kata Mas Tio hingga ku tersipu dan menunduk dalam2.
Pak Kasim yang melihat gelagatku jadi tertawa dan memnyediakan dua mangkok bakso yang sudah kami tunggu2. "Iya, bapak doakan" Katanya tulus.
"Ayo, Mas dicoba..." Kataku pada Mas tio yang segera melahap baksonya dg senyum yang terus nampak. "Gimana, Mas?"
"Enak, bener kata kamu, Len, bakso direstauran tadi aja kalah saing sama bakso ini. Hmmmm " Katanya sambil melahap baksonya lagi.
""Eh ya, Non, Mas Evan sering kesini lho. Non Lena inget kan ?" Tanya pak Kasim.
Aku tersedak dan segera menyeruput teh tawar yang juga disediakan oleh Pak Kasim.
"He-eh" Gumamku.
"Evan siapa, Len ?" Tanya Mas Tio tiba2.
"Itu lho, mas, temen SMP non Lena yang deket banget sama Non Lena, pacarnya Non Clara." Sahut Pak Kasim hingga membuatku tertunduk.
"Ooooh.." Sahutnya tanpa ekspresi.
"Non Lena tau nggak, Mas Evan itu nanyain non Lena melulu. Pernah nggak non Lena kesinilah? Ada kabar nggak dari non Lenalah? Kalo non Lena kesini kabarinlah... Bapak pusing jadinya. Emang non Lena nggak ngabarin mas Evan ya ? Kasian tuch Mas Evan dikacangin mulu sama non Lena" Katanya hingga terkekeh
"Yah biarin ajalah,Pak." kataku tampa mengalihkan pandanganku pada semangkok bakso yang ada dihadapanku.
Tiba2 nafsu makanku lenyap begitu saja mendengar nama Evan dan Clara, teman SMPku.
"Ada masalah apa sich Non Lena sama Mas Evan ? Semenjak Mas Evan deket sama non Clara, Non Lena jadi berubah gitu, nggak bareng2 lagi sama Mas Evan bahkan dulu sempet berantem sama non Clara." tanya Pak kasim bertubi2.
Aku menggeleng2 dan melirik Ms Tio yang heran akan perubahan sikapku.
"Mas, dimakan donk!" Kataku.
"I.. Iya" Kata mas Tio tergagap.
BERSAMBUNG...
Jumat, 23 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar